Rebonding, … Haram?


rebonding rambut

Fenomena fatwa MUI kembali menyeruak. Kali ini yang muncul adalah masalah pelurusan rambut (rebounding). Masyarakat kembali dibuat salah tingkah, ada yang terlihat mengernyikan jidat tanda bingung, ada yang tertunduk tersipu karena merasa salah satu yang “tertuduh”, ada yang menyeringai karena merasa lucu, ada pula yang nyolot karena merasa fatwa ini  is so ridiculous.

Berbagai tanggapan masyarakatpun muncul untuk menyikapi masalah tersebut. Inilah yang menarik! Bahwa ternyata fatwa yang semestinya menjadi acuan dasar bagi pemeluk agama terhadap suatu fenomena yang bersifat subhat (samar-samar) justru menjadi perdebatan. Lalu muncul pertanyaan: Mengapa hal itu musti terjadi?

Sebagian orang berpendapat bahwa fatwa sebaiknya memberikan ‘petunjuk’ untuk hal-hal yang urgent saja, yaitu hal-hal yang bisa mengakibatkan penderitaan bagi orang lain maupun diri sendiri, hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan umum namun bertolak belakang dengan hukum agama, ataupun hal-hal yang pada dasarnya secara logika akan menjadi ‘pertanyaan’ di hari mizan. Sedangkan untuk hal-hal yang bersifat remeh temeh (baca: tidak urgent) nggak perlulah untuk di fatwakan segala.

Inilah dinamika yang terjadi pada masyarakat yang sesungguhnya telah ada sejak dahulu kala. Jangankan hukum yang sifatnya berupa fatwa, hukum yang telah jelas tertulis dalam kitab pun masih saja terjadi sejumlah penafsiran yang berbeda. Lalu, haruskah masyarakat acap kali menjadi bingung ataupun resah bila menemui masalah yang berhubungan dengan keyakinan?

Kembali kepada tema di atas yaitu masalah rebounding, hal yang mendasar sesunggungya adalah bagaimana seseorang boleh atau tidak boleh menurut agama dalam memperlakukan ‘mahkota’ yang ada di kepalanya. Mau di-rebounding, keriting, sasak, catok, gimbal, potong, panjang, pendek, keramas, kumal, kusam, prikitewww, dll.  rasa-rasanya itu semua adalah urusan pribadi seseorang yang akan memperlakukan rambutnya sendiri. Sepanjang alat ataupun bahan yang digunakan bukanlah termasuk yang jelas dilarang oleh agama dan perlakuan tersebut tidak menyiksa diri sendiri ataupun membuat resah orang lain tentu tidak ada dasar apapun untuk melarang seseorang memberikan perlakuan terhadap rembutnya.

Persoalan akan muncul dan bisa jadi akan berakibat haram bilamana muncul pertanyaan: Kepada siapa rambut itu boleh diperlihatkan? Sudah menjadi hukum agama yang jelas bahwa rambut pada wanita, di bagian tubuh mana saja ia berada adalah wajib baginya untuk menutupinya, kecuali untuk muhrim maupun suaminya. Bukan masalah seperti apa mau dibikin bentuknya, yang terpenting hanya pada siapa saja ia boleh memperlihatkannya!

Barangkali memang butuh kearifan dan cara yang bijak untuk memahamkan seseorang ataupun masyarakat luas akan sebuah fatwa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s